Selasa, 29 Mei 2012

Syeikh Abu Nashr As-Sarraj

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Para ahli tasawuf berbeda pendapat tentang wajd. Apa sebenarnya wajd itu? Maka Amr bin Utsman al-Makki mengatakan, “Wajd itu tidak mungkin bisa digambarkan dengan ungkapan apa pun, sebab ia merupakan rahasia Allah yang ada pada orang-orang mukmin yang yakin.”

Disebutkan dari al-Junaid —rahimahullah— yang mengatakan: Sebagaimana yang saya kira, bahwa wajd adalah apa yang terjadi secara kebetulan (al-mushadafah). Ini berdasarkan firman Allah:

“Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan itu terwujud.” (Q.s. al-Kahfi: 49)

Yakni, mereka mendapatinya secara kebetulan. Dan firman Allah Swt.:
“Dan kebaikan apa saja yang kamu lakukan untuk dirimu, tentu kamu akan menemukan pahalanya di sisi Allah.” (Q.s. al-Baqarah:110)

Yakni, mereka temukan (secara kebetulan). Dan firman Allah Swt.:
“Tetapi bila didatanginya air itu, ia tidak mendapatinya suatu apa pun.” (Q.s. an-Nur: 35)

Yakni, ia tidak mendapatkan suatu apa pun.

Maka segala yang ditemukan oleh hati (secara kebetulan), baik duka maupun suka adalah wajd. Allah Swt. telah memberitahu tentang kondisi hati, bahwa ia bisa melihat. Kemampuan untuk melihat itulah yang disebut wajd. Allah Swt. berfirman: “Karena sesungguhnya bukanlah buta mata, tetapi buta hati yang ada di dalam dada.” (Q.s. al-Hajj: 46)

Yakni, buta karena tidak mampu mendapatkannya. Sehingga Allah Swt. membedakan antara hati yang mampu menemukan dengan yang tidak mampu menemukan.

Dikatakan pula, bahwa wajd adalah tersingkapnya tutup hati (mukasyafah) dari al-Haq. Apakah Anda tidak melihat seseorang yang semula tenang kemudian bergerak dan menarik nafas panjang? Tapi kadang di antara mereka ada yang lebih kuat melakukan wajd sehingga ia tetap tenang dan tidak terlihat gerakan apa pun. Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) orang-orang yang apabila Nama Allah disebut maka hati mereka gemetar.” (Q.s. al-Hajj: 35)

Sebagian guru Sufi (syekh) terdahulu mengatakan, ”Wajd itu ada dua: wajd mulk (karena memiliki) dan wajd liqa’ (karena bertemu). Sebab Allah Swt. berfirman, ‘Maka barangsiapa tidak mendapatkan’ (Q.s. al-Baqarah: 196, an-Nisa’: 92 dan alMa’idah: 89). Yakni, tidak memiliki. Dan firman-Nya, “Dan mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan itu terwujud.” (Q.s. al-Kahfi: 49). Yakni, bertemu dengan apa yang mereka lakukan.

Sementara itu sebagian kaum Sufi yang lain mengatakan: Setiap wajd yang menemukan Anda lalu menguasai Anda, maka itu wajd mulk (karena memiliki), sedangkan setiap wajd yang Anda temukan maka itu disebut wajd liqa’ (karena bertemu), dimana Anda menemukan sesuatu dengan hati, tapi sesuatu itu tidak menetap dalam hati.

Saya mendengar Abu al-Hasan al-Hushri —rahimahullah— berkata: Manusia itu dibedakan menjadi empat macam: (1) Orang yang sekadar mengaku, dimana ia akan tersingkap; (2) Orang yang terhalangi, dimana suatu ketika akan bermanfaat baginya dan suatu ketika merupakan kerugian; (3) Orang yang mampu memahami secara hakikat (mutahaqqiq), dimana ia cukup dengan hakikatnya; (4) Orang yang dalam hatinya menemukan sesuatu (wajid), dimana ia telah fana dengan apa yang ia temukan.

Dikisahkan dari Sahl bin Abdullah —rahimahullah— yang juga mengatakan, “Setiap wajd yang tidak dilandasi dengan al-Kitab (al-Qur’an) dan as-Sunnah adalah tidak dibenarkan (bathil).”

Abu Said Ahmad bin Bisyr bin Ziyad bin al-A’rabi —rahimahullah— mengatakan, “Awal wajd adalah tersingkapnya hijab (tutup hati), ‘menyaksikan’ (musyahadah) Dzat Yang senantiasa memantau, hadirnya pemahaman, memperhatikan apa yang gaib, percakapan dengan rahasia hati dan tidak gundah dengan sesuatu yang hilang, dimana itu adalah fananya diri (nafs) sebagai identitas Anda.”

Abu Said —rahimahullah— mengatakan, “Wajd adalah tingkatan awal orang-orang khusus. Dimana ia merupakan ‘warisan’ pembenaran terhadap sesuatu yang gaib. Tatkala mereka merasakannya dan cahayanya telah menerangi hatinya, maka semua keraguan akan hilang.”

Ia juga mengatakan, bahwa yang menghalangi seseorang untuk wajd adalah karena ia melihat pengaruh diri (nafsu) dan sangat bergantung pada berbagai keterkaitan dan sarana (sebab). Sebab diri akan tertutup oleh berbagai sebab dan sarananya. Maka tatkala sebab-sebab itu telah terputus, dzikirnya telah jernih, hatinya bersih dan lembut, nasihat dan dzikir bisa bermanfaat, menempatkan munajat pada posisi yang aneh dan ketika diseru maka ia mendengar seruan tersebut dengan telinga yang penuh kesadaran dan hati yang menyaksikan serta rahasia hati yang suci, kemudian ia menyaksikan apa yang sebelumnya tidak ada, maka itulah wajd. Sebab ia menemukan apa yang ada pada dirinya sesuatu yang tidak ada sama sekali.
Baca Selengkapnya
Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily

Barangsiapa memutuskan diri untuk tidak mengurus dirinya dan melimpahkan urusannya pada Allah; memutuskan pilihannyahanya pada pilihan Allah; memutuskan pandangannya hanya memandang Allah; memutuskan kebaikannya hanya pada ilmu Allah disebabkan oleh disiplin kepatuhan dan ridhanya; kepasrahan total dan tawakalnya pada Allah;

maka Allah benar-benar menganugerahkan kebaikan nurani hati, yang juga disertai dengan dzikir, tafakkur dan hal-hal lain yang sangat istimewa.



(Syeikh Abul Hasan berkata pada salah satu muridnya): Aku melihatmu senantiasa mengekang nafsumu dan menarik perkaramu dalam memerangi nafsumu itu. Engkau wahai Luka’ bin Luka’, maksudku dengan itu menyatakan dua nafsu, terhadap leluhur dan pada anak-anak. Engkau ditindih oleh ikut mengatur urusan (yang bukan urusanmu), hingga sampai pada suapan yang engkau makan dan minuman yang engkau teguk, juga dalam ucapan yang engkau katakan atau engkau diamkan. Lalu dimana posisimu di hadapan Yang Maha Mengatur, Maha Tahu dan Maha Mendengar lagi Melihat; Maha Bijaksana lagi Maha Waspada, Yang Maha Agung Keagungan-Nya dan Maha Suci Asma’-asma’-Nya? Bagaimana bisa Dia disertai oleh yang lain-Nya? Karena itu bila engkau menghendaki sesuatu yang akan engkau lakukan atau engkau tinggalkan, maka berlarilah kepada Allah menghindari semua itu, maka Allah pun akan menyingkirkanmu dari neraka. Jangan mengecualikan sedikitpun. Tunduklah kepada Allah, kembalikan dirimu kepada Allah. Sebab Tuhanmu mencipta apa yang dikehendaki-Nya dan memilihkan.

Hal demikian tidak akan kokoh kecuali pada orang yang benar atau seorang wali. Orang yang benar adalah orang yang mengikuti aturan hukum. Sedangkan wali orang yang tidak mempunyai aturan hukum. Orang yang benar bersama hukum Allah, sedangkan wali, fana’ dari segala sesuatu bersama Allah.

Sementara para Ulama ikut mengatur dan memilih, menganalisa dan mengiaskan. Mereka dengan segenap akal dan sifatnya senantiasa demikian. Sedangkan para syuhada’ terus menerus mengendalikan dan berjuang, mereka berperang, membunuh dan dibunuh, dan mereka hidup dan ada pula yang mati. Mereka dihadapan Allah tetap hidup walaupun secara indera dan fisik tidak ada.

Adapun orang-orang shaleh, jasad mereka disucikan sedangkan rahasia batin mereka menggigil dan tegang. Tidak relevan untuk menjelaskan kondisi ruhani mereka kecuali bagi orang yang benar pada awal langkahnya atau bagi wali pada akhir tahapnya. Engkau cukup melihat apa yang tampak pada lahirnya berupa kebajikan-kebajikan mereka, dan jangan berupaya menjelaskan kondisi batin mereka. Kalau engkau inginkan suatu perkara yang hendak engkau lakukan atau engkau tinggalkan, kembalilah kepada Allah, seperti yang kukatakan kepadamu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan kembalikan dirimu pada-Nya. Ucapkanlah:

“Wahai Yang Awal, wahai Yang Akhir, wahai Yang Akhir, aku memohon demi kebenaran namaku pada Asma-Mu, dan sifatku pada Sifat-Mu, dan urusanku pada Urusan-Mu, pilihanku pada Pilihan-Mu, jadikanlah bagiku sebagaimana engkau berikan kepada wali-wali-Mu (Dan masukkan diriku)dalam berbagai hal (pada jalan masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku tempat keluar yang benar, dan berikanlah padaku, dari sisi-Mu, kekuasaan yang menolong). Takutlah dirimu untuk bersangka buruk kepada Allah: “Bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Aku pernah melihat, seakan-akan diriku duduk dengan salah seorang muridku di hadapan guruku —semoga Allah merahmatinya—, lalu guruku berkata, “Jagalah empat hal dariku. Tiga untukmu dan yang satu untuk orang yang kasihan ini:

Janganlah engkau berusaha memilih persoalanmu sedikitpun, pilihlah untuk tidak memilih.

Berlarilah dari semua upaya memilih itu. Penghindaran pilihanmu pada segala sesuatu, semata untuk menuju kepada Allah. “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilih apa yang terbaik bagi mereka.”

Setiap pilihan-pilihan syariat dan tata aturannnya, maka itulah pilihan Allah, engkau tidak memiliki kompetensi di dalamnya, dan engkau harus patuh pada-Nya, simak dan taatlah. Itulah posisi Pemahaman Ilahi (fiqhul-Ilahy) dan Ilmu Ilhami (ilmul-ilhamy). Itulah bumi ilmu hakikat yang diambil dari Allah bagi orang yang bertindak lurus. Fahami dan baca, serta berdoalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau berada dalam petunjuk yang lurus. Namun apabila mereka membantahmu, katakanlah, Allah Maha Tahu atas apa yang kalian semua ketahui.



Engkau harus tetap zuhud di dunia dan bertawakal kepada Allah. Sebab zuhud itu merupakan fondasi amal, dan tawakal merupakan modal dalam berbagai tingkah laku ruhani. Bersaksilah kepada Allah dan berpegang teguhlah dalam ucapan-ucapan, tindakan-tindakan, akhlak, dan tingkah laku ruhani. “Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka benar-benar ia diberi petunjuk ke jalan lurus.”



Takutlah untuk bersikap ragu, syirik, tamak, dan berpaling dari Allah demi sesuatu. Sembahlah Allah atas dasar agungnya kedekatan, engkau akan mendapatkan kecintaan dan keistimewaan pilihan, kekhususan dan kewalian dari Allah. “Allah adalah Wali bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Sedangkan —untuk lelaki yang perlu dikasihani ini— faktor yang menyebabkan putusnya hubungan ketaatan dengan Allah, dan hatinya yang terhijabi dari bukti-bukti ketauhidan, ada dua perkara:

Pertama ia masuk dalam pekerjaan dunianya dengan cara ikut campur mengaturnya. Kedua dalam amal akhiratnya dipenuhi keraguan atas anugerah-anugerah Ilahi Sang Kekasih. Sehingga Allah menyiksanya lewat hijab, dan terus menerus dalam keraguan, serta melalaikannya akan hisab kelak, lalu ia terjerumus dalam lautan tadbir dan takdir (ikut campur aturan dan takdir Allah). Lalu ia mendekati dengan kewaspadaan yang kotor. Apakah kalian semua tidak bertobat kepada Allah dan mohon ampunan kepada-Nya, sedangkan Alllah itu Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Karena itu kembalilah pada Allah berkaitan dengan prinsip-prinsip pengaturan dan takdir, engkau akan mendapatkan limpahan kemudahan, antara dirimu dengan kesulitan yang ada akan terhapuskan. Setiap ke-wira’i-an yang tidak membuahkan ilmu dan nur, maka ke-wira’i-an itu sama sekali tak berpahala. Sedangkan setiap kemaksiatan yang diikuti oleh rasa takut dan berlari kepada Allah, janganlah engkau anggap sebagai dosa.

Ambilah rizkimu menurut pilihan Allah bagimu dengan mengamalkan ilmu dan mengikuti sunnah Nabi Saw.

Engkau jangan naik ke tahap berikutnya sebelum Allah menaikkan dirimu, sebab dengan tindakanmu itu telapak kakimu bisa tergelincir.

Suatu ketika aku berhasrat pada sedikit saja dari dunia, tidak banyak, lantas aku mengurungkan dan mengkhawatirkan jika hal itu termasuk adab yang buruk (su’ul adab). Aku bergegas kepada Tuhanku, dan ketika tidur aku bermimpi, seakan-akan Nabi Sulaiman as. sedang duduk di atas tempat tidur, sementara di sekelilingnya banyak pasukan. Beliau menyodorkan periuk dan piringnya. Aku melihat suatu hal yang telah disifatkan Allah dalam firman-Nya: “dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungkunya).” (Q.s. Saba’: 13). Lalu tiba-tiba ada yang memanggilku, “Janganlah engkau memilih sedikitpun disisi Allah, namun jika engkau memilih sebagai ubudiyah semata bagi Allah dalam rangka mengikuti Rasulullah Saw. ketika bersabda: “Sebagai hamba yang bersyukur” yakni sebagai Rasul. Kalau toh pun harus memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Dan larikanlah pilihanmu itu pada pilihan Allah.”

Aku terbangun dari tidurku, lalu kulihat ada yang berkata padaku, “Sesungguhnya Allah telah memilihkanmu untuk berdoa:

“Ya Allah luaskanlah rizki padaku dari duniaku, dan janganlah engkau jadikan hijab dengannya (rizki dunia) itu terhadap akhiratku. Jadikanlah tempatku di sisi-Mu selamanya dihadapan-Mu, senantiasa memandang dari-Mu kepada-Mu. Tampakkanlah Wajah-Mu dan tampakkanlah padaku dari penglihatan dan dari segala sesuatu selain-Mu. Hapuskanlah penghalang antara diriku dengan Diri-Mu. Wahai Dzat, yang Dia adalah Maha Awal, Maha Akhir, Maha Dzahir, Maha Batin, dan Dia adalah Maha Tahu atas segala sesuatu.”

Manusia paling celaka adalah manusia yang menghalangai diri pada Tuhannya, dan mengambil alih urusan duniawinya, sementara ia alpa akan prinsip dan tujuan, serta amal akhiratnya.
Baca Selengkapnya